Pendidik, Antara Pengabdian dan Pekerjaan

Diceritakan sang Kyai, pengasuh salah satu pondok pesantren memanggil Lurah pondok.

“Tolong, saya dicatatkan nama-nama santri yang nakal. Sekalian diurutkan ya daftarnya, mulai dari yang paling nakal, agak nakal, dan terakhir nakal”.

Njih Yi (Iya Kyai),” jawab sang Lurah Pondok tanpa berani menatap sang Kyai.

Setelah kyai pergi, Lurah Pondok pun senangnya bukan main. Karena santri-santri yang nakal tersebut sebelumnya telah diingatkan oleh Lurah agar mereka sadar. Namun entah karena saking bandelnya, beragam cara sudah dilakukan sang Lurah namun tak berhasil juga. Mungkin sudah beku hatinya, pikir sang Lurah.

Kalau selama ini jika lurah yang mengingatkan tidak berhasil tidak berefek, lain ceritanya kalau Kyai yang memberikan peringatan. Harapan sang Lurah.

Malam harinya disaat santri pondok lainnya mulai tidur, sang Lurah memulai membuat catatan. Pertama ia buat dulu nominasinya, siapa saja yang masuk kategori nakal. Setelah selesai, dilanjutkan dengan proses perangkingan, siapa yang menduduki posisi teratas. Alias ternakal. Sampai dengan santri yang hanya masuk kategori nakal.

Akhirnya selesai juga, gumamnya lirih sambil melipat catatannya dan menyelipkannya didalam peci. Agar esok hari dapat segera diserahkan Kyai-nya.

Pagi harinya, sang Lurah sowan kepada Kyai untuk memberikan catatan yang telah dibuatnya dengan SKS (Sistem Kebut Semalam).

Lurah pondok itu kembali ke pemondokannya sambil menanti tindak lanjut dari Kyainya. Seminggu sudah penantiannya, namun belum ada tindak lanjut dari sang Kyai. Dua minggu pun terlewat, namun tidak ada tindakan apa-apa.

Dengan rasa pakewuh, akhirnya sang Lurah memberanikan diri sowan menghadap Kyainya. “Maaf Pak Yai, kepareng matur. Santri yang nakal-nakal kog masih ajeg nakal ya, tidak dihukum, dipanggil Kyai atau barangkali dikeluarkan dari pondok kalau perlu?”, tanyanya dengan penuh keheranan.

“Lho, santri yang mana?”, jawab Kyai.

“Santri-santri yang nakal. Yang Kyai pernah minta daftarnya.”

“Siapa yang mau mengeluarkan mereka? Karena nakal itulah akhirnya mereka dipondokkan, biar tidak nakal. Kalau disini nakal terus diusir, ya tetap nakal terus walaupun sudah diluar pondok. Mereka dimasukkan ke pesantren itu biar tidak nakal”, jelas Kyai.

“Maaf Kyai, kenapa Kyai memerintahkan saya untuk mencatat santri yang nakal, itu untuk apa?”, sang Lurah pun penasaran.

“Begini, kamu kan tahu kalau tiap malam kita sholat tahajud. Nah setelah sholat tahajud tersebut, disalah satu doa, tak lupa saya mendoakan para santri. Catatan itu saya bawa, kalau saya berdoa mereka itu saya khususkan.”

***

Pendidikan Zaman Dahulu

Bagi yang pernah mondok, mungkin pernah mendengar cerita tersebut. Meskipun hanya potongan cerita, namun tak mengubah esensi versi lengkapnya.

Luar biasa memang pendidik zaman dahulu, ditengah keterbatasan, mereka selalu memperhatikan anak didiknya. Mereka mengajar secara totalitas. Tidak hanya sebatas lisan, namun juga lahir maupun batin dan teriring do’a. Tirakat dan ikhtiar pun dilakukan.

Meskipun anak didik sudah selesai masa pendidikannya dan kembali ke masyarakat, pun masih dido’akan, dikunjungi, dipantau dan ditanyakan perkembangannya.

Tak heran apabila loyalitas murid kepada guru zaman dahulu dengan sekarang sangat jauh berbeda. Guru sangat disegani dan dihormati, karena guru dianggap sebagai orangtua. Orangtua kedua lebih tepatnya. Kalau di rumah, orangtua pertama adalah ayah dan ibu. Namun, kalau di sekolah, orangtua kedua adalah guru yang mendidik di sekolah.

Coba kita bandingkan dengan keadaan sekarang, guru sudah berubah menjadi profesi, guru sudah menjadi pekerjaan, bukan lagi pengabdian.

Pendidik Zaman Sekarang

Teringat cerita seorang guru yang sudah berumur, dulu mengajar tidak untuk menyambung hidup, namun tidak lebih dari mengajarkan ilmu yang diperolehnya.

Sebelum atau pulang dari mengajar, menyempatkan diri ke sawah agar hasil panen dapat digunakan sebagai penyambung hidup.

Dalam hal ini, saya pun teringat teman saya. Teman yang dalam pandangan saya, termasuk pintar (pintar secara akademis maupun organisasi). Setiap kali bertemu dengan saya, dulu selalu mengutarakan cita-citanya menjadi seorang guru.

Namun setelah selesai dari pendidikan tingginya, ia tidak langsung melamar menjadi guru. Ia ingin berbisnis dulu, agar nanti saat menjadi guru, ia tidak menggantungkan perutnya dan keluarganya pada honor yang diterimanya saat menjadi guru.

Guru sebagai Profesi

Sekarang ini banyak orang yang berkeinginan menjadi guru, hanya karena melihat keadaan guru sekarang lebih baik. Ditambah lagi sertifikasi yang menjadikan orang berlomba-lomba ingin menjadi guru.

Bahkan menjadi honorer bertahun-tahun pun dilakoni asal menjadi guru PNS (yang akhirnya bersertifikasi). Sekali lagi, niat utamanya bukan lagi pengabdian.

Akibatnya, bagaimana sikap murid sekarang kepada gurunya? Sebagian menjawab, masih dianggap sebagai guru adalah saat mengajar pada tingkatan pendidikan yang ditempuh.

Saat masih di SLTP, gurunya ya guru yang mengajar di SLTP, sedangkan guru SD nya sudah terlupakan. Jikalau bertemu di jalan, tak jarang sang guru lah yang pertama kali menyapanya. Sedang sang anak, berpura-pura tidak melihatnya. Ironi memang.

Mengenai hal tersebut, saya teringat akan ungkapan.

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

***

Coretan ini hanya renungan pribadi, agar menjadikan diri menjadi lebih baik. Tidak ada maksud untuk mendeskritkan profesi guru maupun dosen, apalagi bermaksud untuk menggurui sang guru. Karena saya hanyalah salah satu dari murid yang masuk dalam daftar sang Lurah.

Karena kita sekarang ini adalah hasil atau produk dari 15 tahun pendidikan terdahulu. Pendidikan dimana dahulu guru-gurunya masih banyak yang mengabdi. Kalau kita mendidik anak-anak seperti sekarang ini, akan seperti apakah generasi kita berikutnya?

Dan yang pasti, sudahkah kita mengikutsertakan anak didik kita dalam setiap do’a yang kita panjatkan?

Kudus, 2015.09.28