Dusmin: Bukti Awal Kegagalan Kepemimpinan (2)

Siang itu, wajah Dusmin nampak sumingrah. Tidak seperti biasanya yang terlihat murung, kucel tak karuan.

Saat istirahat makan siang, Dusmin selalu pergi ke warung mie ayam yang terletak 500 meter di belakang kantornya. Demi menjaga stabilitas pundi-pundi keuangan keluarganya.

Dan yang lebih penting lagi, ia harus ngirit untuk dapat membelikan gelang dan kalung emas untuk istrinya, Tukiyem. Dusmin pun rela selama ini makan siang hanya dengan mie ayam.

Dusmin sengaja mencari warung yang agak jauh dari kantornya, agar tidak ketahuan teman-temannya yang lain. Dan tidak diminta bayarin teman-temannya.

Apalagi hari ini. Kalo bisa, dia harus ngilang dari peredaran saat makan siang. Dia takut diminta makan-makan alias tasyakuran. Ya, tasyakuran. Dusmin baru saja dipromosikan, naik jabatan menjadi supervisor menggantikan bosnya yang mencla-mencle dan tidak punya pendirian.

“Bang, seperti biasa ya. Mie ayam satu, teh manis satu”, minta Dusmin kepada Sodrun, penjual mie ayam.

“Oke kang, mie ayam segera datang… Tumben, pake acara minum segala. Selama ini kan, cuma beli mie ayam doang”, sahut Sodrun seraya berbisik pada Dusmin.

“Sekali-kali, ndak apa-apa. Toh, aku baru saja jadi supervisor”, sombong Dusmin.

“Wah, hebat ini orang. Meskipun tampang pas-pasan, pelit dan selalu penuh perhitungan, bisa jadi supervisor”, gumam lirih Sodrun.

Maklumlah jika  Sodrun berpikiran kayak gitu. Lha wong saat bayar saja, Dusmin sering minta keringanan harga. Minta diskon lah, minta promo lah, dan paling sering setiap kali membayar, dia selalu menawar.

“Nih bang, mie ayam dan teh manis nya”, ucap Sodrun sambil meletakkan mangkuk mie ayam dan gelas di depan Dusmin.

“Nanti Abang ngapain aja selama jadi Supervisor?”, tanya Sodrun di sela-sela Dusmin makan.

Gleg… Tampak Dusmin kesulitan menelan air minum yang sudah sampai di tenggorokannya.

“Mau ngapain aja ya…”, pikir Dusmin.

“Belum tahu Drun, yang penting jadi supervisor dulu”, jawab Dusmin setengah enteng.

“Wah, bahaya itu. Apalagi, kalau tidak tahu kerjaannya supervisor ngapain aja. Memang, supervisor sebelumnya tidak mengkader bang Dusmin dulu ya?”, tanya Sodrun.

“Tidak. Emang perlu? Nanti juga tahu dengan sendirinya. Learning by Doing“, jawab Dusmin sok yes.

“Adik sepupu ku yang sering membantuku di warung mie sini, aku kader, aku ajarin. Bagaimana membuat mie ayam yang enak, bagaimana melayani pelanggan, dan yang lebih penting bagaimana menanggapi pelanggan seperti kang Dusmin ini. Hehehe”, sindir Sodrun.

“Agar adikku tidak kelabakan jika saatnya nanti dia menggantikan aku, atau nanti jika sudah buka warung cabang. Secara bertahap, aku tunjukkan toko mana yang jual bahan mie yang enak dan murah? Kios mana yang jual sayur masih bagus tapi murah? Aku kenalkan pada bakul dan pelanggan setiaku biar akrab”, jelas Sodrun sembari menuju gerobak mie nya karena ada gadis kinyis-kinyis matang manggis mau order mie ayam.

Dusmin hanya manggut-manggut saja. Namun hatinya berkecambuk, “Kurang ajar, berarti nanti aku harus bekerja keras dan mati-matian. Untuk mulai mengetahui tugas dan tanggungjawab seorang supervisor, bagaimana teknik-teknik dalam mengelola pelanggan, omset dan sales”.

Belum bekerja saja, pikirannya pun sudah mikir yang macem-macem. Tanpa terasa mie ayam satu mangkok itu pun habis.

“Alhamdulillah selesai juga. Kenyang, saatnya berhitung”, bicara Dusmin sambil berjalan menemui Sodrun.

“Mie ayam satu, teh manis satu”, jelas Dusmin kepada Sodrun.

“Sudah langganan sini kog ndak pernah di korting. Yang dihitung mbok ya cuma mie nya aja! Teh manisnya bonus. Atau sesekali dikasih cuma-cuma gitu lho… Itung-itung ikut syukuran promosiku”, tawar Dusmin sambil memberikan selembar uang sepuluh ribu.

“Masak supervisor ndak kuat bayar mie ayam dan teh manis 1 porsi? Bagaimana nanti kalau mau ngasih bonus pada salesnya yang over target?”, ledek Sodrun.

“Mie ayam tujuhribu, teh manis duaribu, nih kembaliannya seribu buat parkir”, jelas Sodrun sambil memberikan kembalian.

“Berarti ndak ada korting nih? Hu… langganan lama kog dikasih harga seperti langganan baru”, gerutu Dusmin dengan nada kesal. Belum sempat ditanggapi Sodrun, ia pun ngeloyor keluar warung.

***

Kudus, 2014.11.17