FamTrip Kudus 2023, Upaya Kenalkan Wisata

Malam itu sekira pukul 21.00 wib muncul notif whatsapp dari Mbak Bekti, bahwa akan diadakan FamTrip yang digawangi oleh Disbudpar Kudus. Langsung saja aku jawab, “Iya, aku ikut mbak”. Apalagi kegiatannya dilaksanakan didalam kota.

Meski sebenarnya sudah lama aku tidak menulis di kompasiana, namun aku berharap kegiatan FamTrip ini menjadi awal untuk memaksa aku kembali menulis di kompasiana, dan yang lebih penting adalah lebih mengenal Pariwisata yang ada di daerahku sendiri, kota Kudus.

Meski Kudus adalah tempat tinggalku saat ini, namun ternyata banyak sekali tempat maupun sejarah tempat pariwisata yang belum aku ketahui secara pasti.

Pelaksanaan Famtrip

Famtrip, yang dilaksanakan selama 2 (dua) hari, mulai hari Kamis dan Jum’at tanggal 16 Maret 2023 bulan kemarin, menjadikan awal kembali aku bertegur sapa dengan sesama kompasiana, memiliki tagline “DolanKudusLebihKeren”.

Acara pembukaan hari Kamis, berlangsung meriah di Hotel @Home Kudus sekitar pukul 16.00 WIB, dibuka secara langsung oleh Mutrikah, Kepala Disbudpar Kab. Kudus. Mutrikah mengatakan bahwa masih banyak potensi pariwisata di Kabupaten Kudus yang perlu digali dan dikembangkan. Acara yang digelar oleh Disbudpar tahun 2023 ini, merupakan awal dari promosi pariwisata di Kudus.

Peserta FamTrip kali ini adalah wartawan, blogger, youtuber, maupun perwakilan siswa maupun mahasiswa yang ada di Kabupaten Kudus. Dengan adanya Famtrip ini, harapannya peserta mampu mengerti dan memahami tempat wisata yang ada di Kudus, dan tentu saja ikut membantu mempromosikan pariwisata yang ada di Kudus.

Setelah selesai acara pembukaan, peserta FamTrip dipersilahkan untuk turut hanyut dalam event Dandangan yang dilaksanakan 2 minggu sebelum memasuki bulan Ramadhan. Dijamin sehat karena harus berjalan kaki sejauh mata memandang dan sekuat tenaga berjalan.

FamTrip hari kedua, Jum’at, 17 Maret 2023 berlangsung tak kalah serunya, peserta dipersilakan untuk mengikuti ke tempat pariwisata yang ada di Kabupaten Kudus, diantaranya Museum Kretek, Museum Jenang, Pijar Park, Wisata Kopi.

Museum Kretek

Museum Kretek yang merupakan museum yang diprakarsai oleh Soepardjo Roestam pada 3 Oktober 1986, waktu itu masih menjabat Gubernur Jawa Tengah. Karena beliau melihat bahwa banyak kontribusi pada usaha rokok kretek yang mampu menggerakkan roda perekonomian daerah. Museum yang berdiri atas pembiayaan Persatuan Pengusaha Rokok Kudus (PPRK) waktu itu.

Banyak hal yang bisa diambil pelajaran dari Museum Kretek, dimana salah satunya adalah koleksi desain bungkus rokok dari masa ke masa, tatacara pemasaran rokok dan moda transportasi yang digunakan untuk mendistribusikan ke pelosok.

Namun, ada satu tempat di Museum Kretek yang bikin aku takjub adalah ketekunan orang zaman dahulu. Dimana bisa begitu sabar, rajin dan rapi dalam membuat tulisan. Ada tiga buku yang dipamerkan di Museum Kretek ini, yaitu Journal Keuangan Nitisemito, Laporan Pemasukan Dari Abon Industri Rokok Tjab Tiga Bal Nitisemito, dan Laporan Abon Dari Industri Rokok Tjap Bal Tiga Nitisemito.

Museum Jenang

Tempat kedua yang kami kunjungi adalah Museum Jenang, museum yang dibuka mulai tahun 2017 ini menawarkan catatan sejarah tentang sejarah jenang khas Kabupaten Kudus, keluarga H Mabruri dan istrinya Hj Alawiyah merupakan pioner awal mula jenang diproduksi.

Seiring berjalannya waktu, museum jenang tidak hanya berkisah tentang jenang saja, namun juga mengenalkan suasana Kabupaten Kudus pada masa lalu, pakaian adat, rumah adat, sejarah Bupati yang menjabat dari masa ke masa hingga sampai beberapa koleksi lukisan pun turut dipamerkan di Museum Jenang ini.

Pijar Park

Setelah sholat Jum’at, kami melanjutkan perjalanan ke Pijar Park, dimana tempat yang cocok untuk bersantai yang dilengkapi dengan beberapa spot untuk selfi ria. Suasana pegunungan membuat hati ogah untuk berpisah dengan Pijar Park ini.

Dulu saat saya masih sekolah, Pijar Park bernama Buper (Bumi Perkemahan) Menawan, sebuah tempat yang biasa digunakan untuk area perkemahan, namun seiring berjalannya waktu diupgrade fungsinya sehingga lebih menarik untuk tujuan wisata.

Wisata Kopi

Tujuan terakhir kami dalam FamTrip 2023 ini adalah Wisata Kopi. Desa Japan, adalah salah satu desa wisata yang dikembangkan untuk wisata kopi di Kabupaten Kudus.

Kami pun mendapatkan wawasan tentang tanaman kopi, mulai bagaimana cara menanam pohon kopi, proses pemetikan, pembuatan kopi dan terakhir adalah pemanenan dan pengolahan biji kopi.

Ternyata desa wisata kopi Desa Japan ini tidak hanya berhenti pada produksi kopi saja, namun lebih dari itu, biji kopi pun mampu disulap untuk dikembangkan menjadi pengharum ruangan. Keren kan.

***

Sebuah petualangan yang luar biasa kami dapatkan, harapannya tahun-tahun ke depan FamTrip tetap dilaksanakan namun dengan destinasi wisata yang lain. Seperti Situs Purbakala Patiayam, Masjid Menara Kudus, Desa Wisata Colo, Air Terjun Pengantin yang ada di Desa Piji, Desa Wisata Rahtawu.

Selain itu, destinasi wisata lainnya adalah Air Tiga Rasa Rejenu, Grey Canyon Kudus, Taman Oasis Djarum, Taman Sardi Atau Menara Pisang, The Peak View Waterboom Kudus, Waterboom Mulia Wisata, Rahtawood Highland, Wisata Waduk Logung, The Hills Vaganza, Puncak 29.

Destinasi lainnya. Seribu Batu Semliro, Pendakian Gunung Muria, Kali Pethuk, Bukit Kroboan, Bukit Puteran, Air Terjun Kali Banteng, maupun Air Terjun Kedung Gender.

Tidak ada ruginya apabila berlibur dan berwisata di Kabupaten Kudus, kota yang relatif kecil, namun sarat akan potensi wisata yang ada. Banyak resto maupun cafe yang tumbuh di Kudus ini.

***

Kudus, 2023.04.14